Pada rute menurun terjal menuju Ngliseng, dapat
ditemukan sebuah pertigaan; terus mengikuti jalan yang beraspal akan membimbing
pejalan ke wilayah yang mencakup RT 05 dan 07 Banjarharjo II tersebut,
sedangkan mengikuti jalan yang masih telanjang tanpa pembangunan akan membawa
pejalan ke gerbang petualangan menuju sebuah air terjun tersembunyi.
Rute terbengkalai ini dihiasi dengan flora yang
tumbuh liar tanpa aturan di setiap sisinya, namun ada pula bagian di mana para
petualang ditemui dengan lanskap khas sebuah daerah di pegunungan, di mana
dengan cuaca tanpa kabut mereka dapat melihat sebagian kota Yogyakarta di
kejauhan, menyala gemerlapan pada malam hari.
Lambat laun, langkah para pejalan akan menjunjung
mereka dari jalan yang memberi ampun menjadi pendakian terjal di samping
pegunungan di mana satu langkah dapat menentukan nasib mereka. Untungnya,
banyak batang dan ranting pohon yang dapat dijadikan pegangan, namun secara
garis besar perjalanan ini tidak disarankan apabila pejalan tidak dalam kondisi
yang benar-benar sehat.
Setelah cobaan tersebut, sebagai hadiah para
penjelajah akan diberikan pemandangan Banyunibo Ngliseng, dengan airnya yang
mengalir dan menghadap lembah yang luas. Belum ada fasilitas yang mendukung
kepariwisataan di sini, dan jalurnya yang ekstrim membuat Banyunibo memiliki
unsur “kerahasiaan”. Karena itu pula, untuk kembali ke bawah, rute yang
ditempuh sama dengan rute untuk sampai ke sini, jadi pejalan disarankan menjaga
stamina mereka.
Banyunibo sendiri dapat diinterpretasikan secara
simbolik bagi warga Ngliseng di bawahnya. Air mengalir lebih mudah untuk bagian
dusun Banjarharjo II ini, tidak seperti wilayah di atasnya. Keberadaannya dapat
mengartikan bahwa aliran air lebih banyak di sini, dan mendukung kegiatan
pertanian.
Menyertai letaknya yang terhindar dari peradaban dan
jalan yang tiada ampun, Banyunibo juga memiliki satu masalah penting lagi yang
sudah akrab di telinga warga sekitar. Potensi wisata ini hanya berfungsi di
saat musim hujan, di mana banyak air mengalir. Di musim berkepanjangan tanpa
curah hujan, Banyunibo hanyalah setumpukan batu berlumut, memberikan kekecewaan
bagi mereka yang datang berharap mendapat sebuah imbalan.
Masalah yang berbaris-baris tersebut mengindikasikan
bahwa pengerahan usaha untuk memaksimalkan potensi wisata di sini masih kurang.
Banyunibo Ngliseng hanyalah satu dari sekian banyak lokasi yang memiliki
potensi mendukung aspek pariwisata di wilayahnya. Mungkin di masa mendatang,
entah berapa tahun ataupun dekade, Banyunibo akhirnya akan diramaikan
oleh jejak para wisatawan setelah terlantarkan sekian lamanya. Sampai hari itu
tiba, Banyunibo akan terus menjadi sebuah surga yang hilang.
Komentar
Posting Komentar